Visi: Kemana kapal mau dilabuhkan

by Roup Purohim on May 1, 2011

*Catatan: Masih seri tulisan di blog sebelumnya, kembali saya reposting. Selamat menikmati.

Apabila saat ini posisi kita sebagai karyawan, label apa yang akan kita lekatkan pada perusahaan tempat kita bekerja. Apakah perusahaan tersebut kita anggap sebagai segala-galanya tempat kita mengantungkan hidup kita. Atau sebagai kendaraan untuk menggapai masa depan dan kehidupan kita? Pilihannya terserah kita.

Ada kisah mengenai kutu yang di hidup di bulu seekor anjing. Suatu ketika ada anak kutu yang berkata kepada ibunya. “Bu, seperti apakah anjing tersebut?”. Dengan penuh sayang ibu kutu berkata pada anaknya, “lho, kita kan hidup dan tinggal dibulu-bulunya. Apakah kamu tidak tahu nak?”. Mendengar jawaban tesebut dari ibunya, anak kutu masih belum puas. “Iya bu, saya tahu. Kita tinggal diatasnya dan setiap hari bersama anjing. Tetapi saya belum mengetahui bentuk anjing itu seperi apa”.

Karena anak kutu terus menerus bertanya, lama-lama ibunya kesal juga. Akhirnya untuk memenuhi keingintahuan anaknya, ditendangnya lah anak kutu, sehingga terlempar ke luar jauh dari tempatnya. Tepatnya terlempar ke lantai dan ke luar dari anjing bulu-bulu anjing. Setelah terlempar keluar, maka anak kutu dengan leluasa melihat kondisi anjing, dimana rumahnya berada di atasanya. Sungguh kaget dan bergembira melihat pemandangan yang selama ini menjadi bahan pertanyaannya. Kaget karena telihatlah anjing tua tempat tinggalnya selama ini adalah anjing yang buruk dan sedang sekarat. Bergembira karena dia mengetahui masa depan kehidupannya. Kemudaian anak kutu tersebut bergumam, “untunglah saya terlempar keluar, sehingga tidak ikut mati bersama anjing tersebut”.

Jangan sampai kehidupan karir kita di perusahaan kita bekerja saat ini kondisinya sama dengan anjing tua yang buruk dan sedang sekarat. Karena kita “kuper”, atau dengan alasan karena kita loyal kepada perusahaan, karena kita karyawan senior, karena kita senang dengan atmosfer kantor, karena kantor dekat dengan tempat tinggal kita, karena bos kita sangat baik, karena mau kemana lagi saya mencari kerja, dll. Karena alasan-alasan tersebut kita merasa nyaman atau menyamankan diri untuk hidup bersama dengan perusahaan tempat kita bekerja sekarang. Dengan segala alasan-alasan tersebut kita memutuskan untuk terus memilih hidup bersama dengan perusahaan sekarang, bagaimanapun kondisinya perusahaan tersebut. Sungguh berbahaya, jangan-jangan kita memilih tempat hidup yang sudah mulai mengalami kehancuran.

Mulai sekarang, risetlah tempat kita bekerja.  Bagaimana kondisinya, bagaimana kehidupannya. Apakah masih layak kita hidup bersamanya ? Ambil strategi apa bila masih layak dan bagaimana jika tidak layak. Namun yang terpenting adalah bukan seberapa baik atau buruk kondisi sekarang kita bekerja, tetapi seberapa cepat perusahaan tempat kita bekerja menjadi jembatan penghubung terhadap impian atau visi hidup kita.

Brian Tracy mengatakan “tak peduli dari mana kita berasal, tetapi pedulilah kemana kita akan menuju”.  Brian Tracy mengajarkan pedulilah pada kemana kita akan menuju. Kemana akan kita menuju berarti apa yang ingin kita raih atau miliki atau menjadi apa dalam hidup kita. Inilah yang disebut dengan visi atau impian atau “to be” (dalam istilah kubik leadership). Sudahkah kita perduli dengan masa depan kita kita dengan memiliki “to be” yang jelas ?

Salam Aksi,
Roup Purohim

{ 3 comments… read them below or add one }

herparingan May 12, 2011 at 1:37 am

Yup, oke, sangat jelas uraian sampeyan kawan Raup, ada satu pertanyaan tentang Anjing. Tapi anjing memang berbeda dengan kapal. Si anak kutu terlempar dari tubuh anjing dan langsung melihat betapa sekaratnya anjing yang selama ini menjadi kampung halamannya. Dan dia akan dengan mudah mencari anjing yang sehat. Karena memang anjing bisa kelihatan sehat atau sekaratnya dari mata si kutu saat si kutu terlempar keluar. Namun kapal? Wow! Kapal hanya akan kelihatan sehat atau bobroknya saat kita ada di dalamnya dan kapalnya sedang berlayar. Dengan lain kata, kita baru bisa menilai saat kita sudah ada di dalamnya. Sulitnya, saat anak kutu terlempar dari tubuh anjing dan karena anjing juga binatang darat, maka dia gak akan kenapa-napa. Tapi bayangkan, bila kita terlempar dari kapal sementara kapal sedang berlayar, apa yang bisa kita lakukan? Berenang? Itu kalau kita bisa berenang. Kembali ke kutu yang terlempar yang dengan mudah akan mencari anjing lain yang lebih sehat. Akan berbeda dengan kita yang terlempar dari kapal, jangankan untuk mencari kapal yang lebih baik, untuk bertahan hidup pun kita akan setengah mati. Atau, katakanlah kita memang keluar dari kapal dengan sekoci kita, untuk mencari kapal yang lebih baik pun tentunya akan susah. Seperti yang saya katakan sebelumnya, bisa jadi kapal yang kelihatannya jauh lebih megah dalemannya lebih buruk baik secara teknis maupun dari pengelolaan kapalnya.
Kembali ke postingan sampeyan, nice posting but it will be more awesome for us if you keep the title in your message spirit. Ceritakanlah tentang kapal bukan judul kapal isinya kutu anjing…. :D
Lanjutkan bro…

Reply

Roup Purohim May 12, 2011 at 6:16 am

Terimakasih bro …
Nah … itulah tantangannya kan?

Reply

Erdjon July 15, 2011 at 8:19 am

Sore pak Roup,
terima kasih sharing artikelnya ya!

Reply

Leave a Comment

Previous post:

Next post: