*Catatan: Tulisan ini sempat saya muat di blog ini, namun tidak terupdate. Untunglah i2Move (indonesia inspiring movement), masih memuatnya. Sebagai alumni TFT#1 Mas Jamil Azzaini, seorang inspirator SuksesMulia dari Kubik Training, tulisan saya mendapat kehormatan untuk dimuat di jaringan i2move network. Terimakasih pada i2move. Selamat membaca.
Difference is power. Itulah makna dari diferensiasi yang diajarkan dalam ilmu marketing. Diferensiasi adalah bagian dari “strategi” pemasaran selain segmentatation dan targeting.
Ilmu marketing mengajarkan menjadi berbeda “dibanding pesaing” adalah suatu strategi untuk memenangkan persaingan. “Berbeda” diperlukan untuk menjadi unggul (excellent) dibandingkan dengan kompetitor.
No difference, no excellent !
Berbeda (diferensiasi) juga menjadi salah satu pilihan dari strategi generik Philip Kotler. Dalam strategi generiknya, Kotler menyajikan pilihan strategi untuk untuk memenangkanpersaingan, yaitu menjadi beda (strategi pertama), memilih strategi berbiaya murah (strategi kedua) atau memilih fokus (strategi ketiga). Dalam hal ini ketiga strategi tersebut dapat diterapkan dalam kita bekerja. (… yang satu ini akan saya ulas lebih dalam berikutnya).
Namun berbeda saja tidak cukup. Berbeda yang tidak asal-asalan, apalagi “asbed” (asal beda, he2x…. akronimnya bener ga ya … dimirip2x-in dengan asbun). Alih-alih menginginkan unggul malah mendatangkan bumerang dan menjadi petaka yang merugikan. Perbedaan yang asbed tidak ada manfaatnya. Jadinya “nyeleneh” dan dianggap gila sama orang lain. Weit …. tapi kata pepatah only the paranoid survive !!. Jadi gimana dong ?
Berbeda bukan tujuan
Artinya menjadi berbeda itu bukan tujuan yang harus/ingin dicapai. Jika menginginkan unggul, sempurna, berkualitas dan memenangkan persaingan haruslah berbeda. Namun berbeda hanyalah alat untuk mencapai keunggulan. Hanya sebagai alat untuk transformasi. Berbeda hanyalah salah satu strategi. Perbedaan hanyalah jembatan untuk menuju tujuan diseberang sana.
Perbedaan juga merupakan jalan untuk berubah. Perbedaan akan membuat seseorang eksis, ada dan bahkan justru berkembang. Perbedaan juga menjadi stimulus bagi siapa saja yang ingin eksis, diakui, hidup dan berkembang. Pun kita sebagai karyawan, entrepreneur, bisnis, trainer, dokter, dan siapapun harus berbeda dengan yang sudah ada. Berbeda dengan rekan kita.
Perbedaan juga menciptakan sejarah. Orde baru berbeda dengan orde lama. Orde reformasi berbeda dengan orde baru. Penemuan, sejarah, rekor, award ada akibat dari adanya perbedaan. Siapapun yang ingin dikenang dalam sejarah, mendapat award dan rekor buatlah perbedaan.
Perbedaan sebenarnya sudah menjadi fitrah (hukum alam, “sunatulloh”), kenapa demikian ? Karena semua mahluk yang ada di dunia ini sudah berbeda. Tidak ada yang sama, persis, bahkan yang kembar siam sekalipun. Mirip mungkin iya. Faktanya setiap orang dilahirkan berbeda, namun faktanya juga tidak setiap orang melahirkan keunggulan, tidak melahirkan sejarah, tidak melahirkan award baik bagi dirinya maupun bagi organisasinya (lingkungannya).
Perbedaan hanyalah modal awal atau modal dasar.
Perbedaan belum menjadi sumber keunggulan bersaing. Namun jika modal awal saja tidak disadari, maka selanjutnya mana mungkin menjadari keunggulannya. Paling tidak mulai sekarang … sadarilah bahwa kita mempunyai modal dasar yang luar biasa, yang dapat kita gunakan untuk bersaing. Jangan cemaskan persaingan, karena persaingan hanya terjadi ketika ada persamaan. Begitu merasa kita sudah sama dengan orang lain (kompetitor), rubahlah haluan untuk menjadi berbeda.
(bersambung)
Salam Aksi,
Roup Purohim
(Peserta TFT #1 I2move, Jogjakarta)