Tak dapat elakan lagi, situasi persaingan saat ini amat sangat dinamis. Tak terkecuali bisnis di industri pestisida. Persaingan yang terjadi sampai jauh pada tingkat produk dan eksekusi marketing komunikasinya di lapangan. Analisa sederhananya mungkin kira-kira begini.
Dengan menggunakan model kekuatan persaingan dari Poter (1985), persaingan di industri pestisida bisa dilihat dari 5 sisi kekuatan, yakni kekuatan persaingan dalam industrinya, ancaman bagi pendatang baru, ancaman barang substitusi, daya tawar pembeli, dan daya tawar penjual.
Walaupun ancaman pendatang baru dalam hal ini hadirnya perusahaan baru dan molekul baru (new product and new category) hampir kecil, namun ancaman barang substitusi semakin meningkat. Faktor hadirnya kekuatan perusahaan-perusahaan nasional menjadikan kekuatan daya tawar pembeli petani dan penjual (kios) meningkat. Bagi petani, jelas mereka menginginkan produk dengan harga murah (tetapi juga efektif), dan kios menginginkan marjin penjualan yang bagus. Kondisi seperti itu biasanya diperoleh dari produk-produk baru yang keluarkan oleh perusahaan. Walaupun “mungkin” sebenarnya produk baru tersebut berasal dari kategori produk yang sudah lama dipasaran.
Menghadapi persaingan tersebut, secara industri sebenarnya perusahaan nasional memiliki modal untuk bersaing dengan perusahaan multi nasional. Terutama dalam pricing strategy dengan memetakan level harga 2 sampai 3 level di bawah harga produk perusahaan multi nasional. Produk-produk pestisida perusahaan nasional umumnya memiliki harga yang relatif murah sampai kompetitif dari kategori produk yang sama, karena disitulah “salah satu” strategi bersaingnya.
Namun tidak semua juga perusahaan nasional menerapkan strategi seperti itu. Beberapa perusahaan menerapkan strategi bersaing yang menenempatkan dirinya bukan sebagai follower atau real imitator , namun lebih kepada transformer (improver). Menjadi follower saja, saat ini sangat-sangat tidak menguntungkan, karena secara bisnis akan merugikan karena hanya mengejar keuntungan jangka pendek saja. Dengan memposisikan sebagai transformer, walaupun sebagai follower pada mulanya tetapi terus melakukan perbaikan-perbaikan, dan berupaya melakukan breakthrough (terobosan).
Tantangannya saat ini adalah bagaimana agar perusahaan mampu meraih target jangka pendeknya, selain terus mengembangkan market share-nya. Sikap dalam menghadapi situasi yang terjadi saat ini, para manajer janganlah mengambil sikap reaktif (reacting) terhadap setiap tindakan pesaing, namun harus mampu membuat tindakan antisipatif (anticipating), atau jauh lebih baik apabila berusaha untuk mampu mengendalikan (leading) pada situasi yang diinginkan. Sesungguhnya persaingan itu adanya di masa depan. Karena itu diperlukan sikap yang konsisten, persisten, dan determinasi yang kuat untuk mengelola situasi saat ini dan melakukan perubahan. Saya yakin masih banyak peluang yang bisa diraih untuk memenangkan persaingan. Semangkaaaa , semangat kakakaaa !!!
(RP)
*) source image : http://mobavatar.com/what-s-on-your-mind/menatap-masa-depan.html